Minggu, 20 November 2011

Pendidikan Islam paradigma teologis, filosofis dan spiritual












Review buku










Pendidikan Islam paradigma teologis, filosofis dan spiritual
pengarang
Prof. Dr. Tobroni, M.Si


KERANGKA FILOSOFIS DAN TEOLOGI PENDIDIKAN
            Paradigma (paradigm) dalam oxford advanced learner’s dictionaries berarti (general) pattern atau model. Bisa juga berarti kaidah, dalil, tasrif dan pola  dari sesuatu yang dianggap benar dan baku.
            Sedang, filsafat berarti cinta kebenaran (al-haq) dan kebijaksanaan (al-hikmah), filsafat juga disebut sebagai the mother of science, induk dari ilmu pengetahuan. Dan filsafat disebut juga the spreme art, pengetahuan tertinggi atau the art of life , pengetahuan tentang hidup.
            Filsafat memiliki tiga dimensi; sebagai concent atau subject matter, sebagai aksi atau kegiatan dan sebagai sikap (attitude). Sebagai concent filsafat mempelajari masalah-masalah metafisik yang membahas tentang “apa yang ada” dan “mungkin ada”, epistimologi, membahas tentang teori pengetahuan,  sumber pengetahuan dan batas pengetahuan dan aksiologi membahas tentang nilai (etika dan ekstetika). Dengan demikian filsafat berarti membangun nilai dan keyakinan agar tindakan yang dilakukan  senangtiasa dimengerti, disadari, bermakna dan dapat dijelaskan secara sistematis.
            Istilah teologi lahir dalam tradisi Kristen, secara harfiah, teologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu ketuhanan. Sedang dalam Islam teologi  adalah iman dan taqwa. Teologi yang fungsional, yaitu teologi yang dapat membangun etos dan kesadaran etis dan pada gilirannya melahirkan amal saleh haruslah teologi yang kontekstual. Dalam berbagai belahan dunia teologi kontekstual adalah teologi yang sangat menekankan  konteks social, politik, ekonomi dan budaya.

            Fungsional teoligi dapat ditempuh melalui empat tahap dan dua belas langka sebagai berikut:
A.    Pengkajian konteks
1.      Pengeumpulan data  lapangan
2.      Perumusan masalah
3.      Analisis data lapangan
4.      Merumuskan fokus refleksi
B.     Keprihatinan iman
5.      Menemukan tindakan moral religius
6.      Merumuskan keprihatinan imam
C.     Tajdid idiologi
7.      Dialektika teks (doktrin) dan ide moral Islam dengan konteks
8.      Dialektika kondisi actual umat
9.      Dialektika dengan tantangan kedepan umat
10.  Pembaharuan teologis
D.    Aksi social
11.  Merumuskan aksi social
12.  Melakukan aksi social untuk berkerja sama dengan komponen-komponen umat dan bangsa.
Pendidikan adalah istilah generik, dalam arit dapat diartikan secara luas dan sempit. Istilah pendidikan secara khusus dapat diartikan sebagai proses belajar-mengajar dikelas  dan ilmu pendidikan (peadogogy). Dalam Islam sendiri dikenal dengan konsep pendidikan Islam, konsep pendidikan Islam  sering kali dimaksudkan  dalam pendidikan dalam arti sempit yaitu proses belajar-mengajar dimana agama Islam sebagai core curriculum. Pendidikan juga berarti lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat kegiatan yang menjadikan Islam sebagai identitasnya, baik dinyatakan maupun samar-samar. Secara subtansial yaitu proses belajar-mengajar yang menekankan pada iklim pembelajaran atau “education atmospere” yaitu suasana pendidikan yang Islami, memberi nafas keislaman pada semua elemen kelembagaan.
VISI DAN MISI PENDIDIKAN ISLAM
            Misi yang diemban oleh pendidikan Islam tidak lain dan tidak bukan adalah misi Islam itu sendiri yaitu rahmatan lil alamin. Dalam bahasa sederhana misi Islam adalalah agar manusia tidak hanyan menabung dan berharap  surga dan terhindar dari neraka di akhirat. Tetapi dapat menciptakan republic surga dan menghindari neraka dunia. Islam menghendaki kehidupan yang makmur, dinamis dan harmonis atas dasar nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Seyogyanya sikap lemah lembut dengan penuh kasih sayang dicontohkan oleh pendidikan,orang tua dan komunitas sekolah lainnya. sebagai manivestasi ajaran agama yang diyakininya.
            Selain dari pada itu misi yang diemban oleh pendidikan Islam yaitu agar manusia dapat menjalankan amanah kehidupan ini dapat membangun kerajaan dunia yang makmur, dinamis dan harmonis atau rahmatan lil alamin yaitu hubungan segitiga sama sisi secara harmonis antara tuhan,manusia dan alam. Sebagai komponen utama dalam kehidupan manusia. Misi Islam tersebut dapat diwujudkan oleh tidak saja orang yang mengaku beriman  atau mengaku taat beragama, tetapi sekaligus orang yang berilmu berwawasan luas tetang hakikat kehidupan, beradab, terampil dan komitmen kepada nilai-nilai identitas kemanusiaan seperti keadilan, kebersamaan dan kasih sayang.
Tujuan pendidikan Islam, antara lain
1.      Tecapai  sasaran kualitas pribadi
2.      Integritas pendidikan agama dengan keseluruhan proses maupun institusi pendidikan yang lain.
3.      Tercapainanya internalisasi nilai-nila dan norma-norma keagamaan yang fungsional secara moral untuk mengembangkan keseluruhan sistem social dan budaya
4.      Penyadaran pribadi akan tuntutan hari depannya dan trasformasi social budaya yang terus berlangsung
5.      Pembentukan kawasan ijtihadiyah (keterbukaan dan dinamisan) disamping menyerap ajaran agmaa yang aktif.
Dalam merumuskan pendidikan Islam diperlukan pendekatan terpadu yang mencakup:
a.       Pendekatan filosofis
b.      Pendekatan analisis lembaga-lembaga social
c.       Pendekatan melalui analisis ilmiah tentang realitas kehidupan yang actual.
Hambatan-hambatan dalam mencapain tujuan pendidikan Islam:
1.      Pergulatan yang terjadi terus-menerus antara kepentingan ideal dengan kepentingan politik praktis.
2.      Ada tidaknya kemampuan dan keberanian umat Islam melakukan perombakan dan pembaharuan lembaga-lembaga pendidikan yang dimiliki atau yang ada saat ini.
3.      Seberapa jauh umat Islam memiliki Indonesia dalam arti yang seluas-luasnya

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM         
            Ilmu yang menganut paradigm positisfik mengiyakan atau memberikan jawaban positif atas pernyataan ilmu bebas nilai. Dalam filsafat humanisme antroposentris, menempatkan manusia dalam posisi sentral dan menentukan dalam jaga raya.
            Kelebihan positifisme antara lain:
a.       Pendekatan positivisme telah menjadikan ilmu pengetahuan berkembang pesat, karena prinsip ilmu yang bebas nilai atau bebas dari keterikatan moral, dan sebaliknya hanya terikat pada kode etik ilmu pengetahuan telah menyebabkan ilmu pengetahuan berjalan mulus.
b.      Memberikan kebebasan dan rangsangannya kepada ilmuan untuk berlomba-lomba menemukan dan mengembangkan metode baru, ilmu baru berguna mengoreksi, melengkapi atau menguatkan ilmu pengetahuan atau metode yang sudah ada.
Sedangkan kelemahan-kelemahan positivisme sebagaiamana dikemukakan oleh prof. ayer, seorang ilmuan positivisme logika modern di Inggris sebagai berikut “gagasan kebenaran dan kesalahan hanya mengandalkan kemampuan indrawi.
            Disisi lain terdapat pemikiran teosentrisme yaitu suatu paham yang menempatkan Tuhan sebagai sentral dalam sistem kehidupan ini bukan hanya dalam penciptaan dan kekuasaannya, tetapi juga dalam berbagai aktivitas manusia termasuk upaya manusia menggali ilmu pengetahuan.
            Atas dasar itulah beberapa kalangan tertentu mengajukan gagasan tetang perlunya Islamisasi ilmu pengetahuan. Paradigma yang digunakan adalah paradigma tauhid baik dalam metodologinya, strateginya, data-datanya, problem-problemnya, tujuan-tujuanya maupun inspirasinya. Namun menurut penulis buku ini polemik seputar islamisasi pengetahuan itu lebih cenderung bersifat intellectual exercise semata. Tidak perlu diislamkan karena secara epistemology sudah mengikuti sunatullah yang diperlukan adalah human being.
            Dalam konteks keindonesiaan, pendidikan nasional baik filosofisnya, kebijakannya, praktek pendidikannya kurikulum dan kegiatan belajar mengajarnya harus mengacu pada nilai-nilai luhur pancasila.
            Islam memandang akhlak sangatlah penting “aku diutus untuk menyempurnakan akhlak” adalah bukti pentingnya akhlak. Kedudukan akhlak dalam Islam adalah nomor dua setelah Iman. Seseorang tidak dikatakan beriman jika tidak memiliki akhlak  mulia.
Penguatan aspek moral ini  tidak berarti menomer duakan aspek intelektual dan jasmaniah tidak boleh dipisah antara pegembangan intelektual dengan moralitas karena pegembangan intelektual pada hakikatnya menawarkan berbagai pilihan jalan hidup. Dan pilihan mana yang diambil itu menyangkut pilihan-pilihan moral, karena moralitas mengajarkan yang terbaik dan fitrah manusia bersifat hanif atau codong pada kebenaran.
Al-Islamu huwa al-dinu wa al-madaniyah, Islam adalah agama (doktrin) dan peradaban. Al-Quran sebagai sumber otentik ajaran Islam memberikan daya dorong yang luar biasa bagi peradaban manusia. Ia secara terang menggemakan pernyataan yang amat mendasar semangat memajukan peradaban.
Pendidikan Islam sangat berperan dalam membentuk peradaban umat manusia, akan tetapi saat ini pendidikan Islam mengalami ketidak jelasan atau penyempitan dalam memainkan perannya. Di Indonesia misalnya, pendidikan Islam baik dalam arti kelembagaan maupun isi belum mampu memberikan image sebagaimana yang di indamkan. Sedangkan apa yang kita sebut peradaban modern telah begitu hiruk pikuk dan merubah orientasi dan pandangan hidup umat Islam.

PARADIGMA KEMANUSIAAN DALAM PENDIDIKAN
            Gambaran yang lebih memadai tentang manusia dan kemanusiaan, tujuh rumusan berikut ini di harapkan mampu memberikan gambaran tetang “misteri”manusia:
a.       Perjalanaan hidup manusia
Implikasi perjalanaan hidup manusia terhadap pendidikan, pertama manusia diangkat sebagai khalifah melebihi malaikat karena pendidikan, kedua, isi pendidikan harus bersifat komprehensif dan intergralistik yang berkaitan dengan tugas manusia sebagai khalifah-Nya dimuka bumi. Ketiga, pendidikan harus menyejarah dalam arti dapat mengambil I’tibar dan hikmah dari peristiwa sejarah serta membekali peserta didik kompetensi bagi kebutuhan hidup dimasa depan.
b.      Perbedaan manusia dengan hewan
Karakteristik yang membedakan manusia dengan hewan, antara lain, dilihat dari perspektif biologis (basyar) meskipun terdapat kemiripin namun banyak hal yang membedakan, antara lain berdiri tegak, makan dengan tangan, berumur panjang dan berkulit indah. Dilihat dari perspektif emosi, perbedaan dasar antara manusia dengan makhluk yang lain disebut sebagai peradaban dan kebudayaan manusia terdapat pada dua aspek: pandangan dan kecenderungan-kecenderungannya. dilihat pada aspek kecerdasan inteletual. Tingkat ilmu manusia jauh melewati pemahaman dangkal atas alam. Dilihat dari perspektif spiritual, manusia adalah makhluk idealis yang mencari nilai-nilai. Ia mencari sesuatu yang ideal tidak hanya yang materialis dan menguntungkan.
c.       Jati diri manusia
Jati diri manusia adalah “hanif” yakni condong pada kebenaran, bertauhid dan nilai-nila luhur lainnnya. Selain itu jati diri manusia adalah “fitrah” yakni potensi yang mampu menyerap sifat-sifat ketuhan dalam dirinya (rabbany).
d.      Kebebasan manusia
Manusia adalah satu-satunya pengecualian dalam hukum universal karena antara semuanya dialah satu-satunya ciptaan Allah yang memiliki kebebasan untuk mentaati dan mengingkari perintahnnya. Tuhan telah memberikan  kehendak memilih, menentukan dan memutuskan berbuat baik atau buruk.
e.       Tujuan hidup manusia
Penciptaan manusia adalah sebagai tugas kekhalifaahnya dimuka bumi, yakni makhluk yang diberi tugas dan tanggung jawab sebagai wakil, pengganti, dan pengatur.
f.       Muhammad profil ideal manusia
Sudah umum Nabi Muhammad saw adalah Nabi, Rasul dan profil manusia ideal sebagai pegejawantaan sempurna dari ajaran Islam. Allah sendiri menyatakan dalam al-Quran bahwa Muhammad digambarkan secara ringkas sebagai uswatu hasanah (contoh tauladan terbaik).
g.      Pendidikan berwawasan manusia.
Pendidikan perlu mempunyai dasar-dasar pemikiran filosofis yang memberi kerangka pandangan yang holistik tentang manusia, dalam seluruh prosesnya, pendidikan perlu meletakkan manusia sebagai titik tolak (staring point) dan sebagai titik tuju (ultimate goal) dengan berdasar pandangan kemanusiaan yang telah dirumuskan secara filosofis.

GURU DALAM PENDIDIKAN ISLAM
            Dalam khazanah pemikiran Islam guru dikenal dengan beberapa istilah seperti muallim, muaddib dan murobby. Dalam Islam guru adalah sosok mulia, keduduk ini tidaklah berlebihan melainkkan terkait dengan penghargaan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan akhlak karena itu seseorang mulia bukan karena struktur sebagai guru, melainkan secara subtansial memang mulia dan secara fungsional mampu memerankan fungsi keguruannya yaitu mencerdaskan dan mencerahkn kehidupan bangsa.
            Guru yang efektif memiliki ciri (1) hubungan guru dan murid: bersahabat, menjadi mitra, belajar sambil menghibur murid, menyayangi murid sebagaimana anak sendiri, adil dan memmahimi kebutuhan setiap anak dan memberikan bagi anak didik. (2) berkaitan dengan tugasnya sebagai guru: mencintai pekerjaannya, cakap secara akademik, mampu menerangkan dengan jelas, mampu merangsang siswa untuk belajar, mampu memberikan sesuatu pada siswa yang paling berharga, mampu menjadikan kelas sebagai tempat yang menyenangkan. (3) berkaitan dengan sikap dan kepribadian: penampilan menarik, tidak terlalu kaku, bisa menjadi teladan bagi siswa.
            Maka pemberdayaan guru merupakan suatu yang niscaya dilakukan. Pendekatan yang perlu dilakukan dalam pemberdayaan guru setidaknya tiga pendekatan: pendekatan menurut tujuan (organisasi), pendekatan teori sistem (organisasi) dan pendekatan budaya organisasi. Dan langkah-langkah yang perlu ditempuh antara lain, meingkatkan kesejahteraan guru, pengembangan karir guru, peningkatan kemampuan para guru dan mengatasi beban psikologis guru.

PARADIGMA HUMANISME DALAM INTERAKSI EDUKATIF
            Dalam dunia pendidikan terdapat tiga paradigma yang paling berpengaruh antara lain
1.      Paradigma behaviorisme
Paradigma behaviorisme berpendapat bahwa, pertama, prilaku anak didik terbentuk oleh pegaruh orang dewasa terutama orang tua dan guru. Kedua, tindakan peserta didik mengikuti tindakan stimulus-respon, sehingga bersifat reaktif. Seorang guru harus pandai-pandai menciptakan stimulus sehingga akan dapat melahirkan respon positif dan aktif bagi siswa. Ketiga, hadiah (reward) dan hukuman (punishment) memegang peran penting.
2.      Paradigma Rasionalisme
Paradigma ini berpendapat bahwa; pertama, perilaku manusia dipertimbangkan oleh kognisi. Pendidikan harus dapat mengkokohkan intelektualitas dan pengembangan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Kedua, rasionalitas memegang peran penting, rasio adalah panglima yang akan menentukan keberhasilan anak didik kelak. Ketiga, tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan intelektualitas atau aspek kognitif anak didik.
3.      Paradigma humanisme
Paradigma humanisme berpendapat bahwa; pertama, perilaku manusia itu dipertimbangkan oleh multiple intelligencenya bukan kecerdasan intelektual semata, tetapi juga kecerdasan emosi dan spiritualnya. Kedua, anak didik adalah makhluk yang berkarakter dan berkeperibadian serta aktif dan dinamis dalam mengembangkannya, bukan benda yang “pasif” dan hanya mampu mereaksi atau merespon faktor eksternal. Ketiga, berbeda dengan behaviorisme yang menekankan pada “to have” dalam orintasi pendidikannya humaisme justru menekankan pada  “to be” dan aktualialisasi diri.
Tujuan dari pendidikan adalah untuk membentuk waladul shaleh, yaitu anak atau orang yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Maka dari pada itu diperlukannya kecerdasan yang majemuk untuk menjadi seorang anak yang shaleh. Oleh karena itu pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak mendewakan salah satu bentuk kecerdasan, misalnya kecerdasal intektual (IQ) dan mengabaikan kecerdasan emosi dan spiritual.
Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya berhenti pada kecerdasan majmuk semata tetapi ada tindak lanjut,yakni: pertama, anak harus mendayagunakan kecerdasan majemuknya untuk memahami, mengenal dirinya. Kedua, anak harus mendayagunakan kecerdasanyan untuk membangun kekuatan ilmu (quwwatul ilm) dan rumah ilmu (bait al-Ilm) dalam dirinya. Ketiga, anak harus memberdayakan kecerdasan majmuknya untuk memperkokoh akhlak kepribadiannya sehingga memiliki akhlak yang agung. Keempat, anak harus diarahkan untuk memberdayakan kecerdasan majmuknya untuk memiliki kekuatan ibadah. Keterpaduan, keserasian dan pencahayaaan godspot (ruh) terhadap qalbu, akal dan nafsu atau jasad jelas akan memaksimalkan kecerdasan dan fungsi masing-masing.
Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam pendidikan antara lain; tilawah, ta’lim, tarbiyah, ta’dib, tazkiyah, dan tadrib. Tilawah menyangkut kemampuan membaca, ta’lim terkait dengan pengembangan kecerdasan intelektual, tarbiyah menyangkut kepedulian dan kasih sayang sesama pribadi, ta’dib terkait dengan pengembangan kecerdasan emosi, tazkiyah terkait dengan pengembangan kecerdasan spiritual dan tadrib terkait dengan kecerdasan fisik atau keterampilan.
Peran pendidikan sangatlah penting, terutama perguruan tinggi. Yang menjadi persoalan dan obsesi bersama adalah bagaimana agar umat ini dapat membangaun perguruan tinggi yang berkualitas, strategi dan kiat-kiat apa yang mesti ditempu sehingga dapat memberi tenaga dan kemampuan ekstra untuk mengejar ketertinggalan, persoalan-persoalan apa yang menjadi ganjalan sehingga umat yang besar perguruan tingginya berjalan terseok-seok. Maka dari pada perlu diperhatiakan lima tahap dalam membangun perguruan tinggi yaitu,1. konsolodasi idiil dan strukturil, 2. Pembangunan fisik dan fasilitas, 3. Pembangunan akademik, 4. Pegakuan masyarakat, 5. Aktualisasi diri.
Pembelajaran sekolah adalah adalah aktifitas sadar tujuan artinya semua komponen dalam proses pembelajaran dilembaga pendidikan itu memiliki tujuan yang jelas, terencana, terukur dan terkoordinasi. Maka dari itu perlu adanya interaksi edukatif, yakni interaksi yang sarat dengan nilai, dan nilai itulah yang dikehendaki untuk diinternalisasikan melalui proses pendidikan terutama oleh guru kepada muridnya. Karena itu interaksi eduktif tidak berdasar pada kemapanan namum pada  penuh makna dan mendalam. Karena itu dalam setiap bentuk interaksi edukatif akan  senangtiasa mengandung tiga unsur pokok,yaitu:
1.      Hear, yang meliputi keyakinan dasar (core belief) dan nilai-nilai Dasar (core value)
2.      Head, yang meliputi kerangka berfikir dan peta mental (mindset) serta pengetahuan (knowledge)
3.      Hand, yang meliputi tindakan (action) dan perilaku (behavior)

SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM
            Gagasan tentang spiritualisasi pendidikan merupakan suatu konsep yang dikembangkan oleh pembaharu Islam. Diakui bahwa konsep ini adalah ijtihad dalam rangka mewujudkan visi spiritualisasi dalam semua aspek proses pendidikan. Spiritualisasi pendidikan adalah konsep pendidikan yang berusaha memahami dan memperlakukan manusia secara  utuh, adil dan dalam konteks ketuhanan dan kemanusiaan. Spiritualisasi pendidikan dapat dilakukan manakala etika, religius, spirit Islam sebagaimana tersurat dan tersirat dalam al-Quran dan as-Sunnah dan nilai-nilai dalam hukum alam menjadi sebuah paradigma. Spitualisasi pendidikan Islam adalah mengimplementasikan paham tauhid dalam pendidikan yaitu kesatuan nilai dan paradigma.
            Kata kunci dari spitualitas pendidikan adalah pendidikan harus berangkat dari hakikat manusia sebagaimana yang dicitrakan tuhan dalam fitrahnya yaitu sebagai makhluk bertuhan, social dan makhluk yang terikat dengan alam.
            Guru adalah sebuah panggilan hidup yang menebarkan salam, rahmat, karunia dan hikmah Allah kepada anak didik. Guru yang hanya bertujuan mencari nafkah dan kehormatan berbeda dengan guru yang ikhlas mengajar karena Allah . guru yang seperti ini akan memiliki daya dorong, daya tahan dan energi ganda dalam menghadapi perubahan.
            Dalam rangkah memperkokoh basis spritualitas bagi semua komunitas sekolah dilakukan antara lain dengan langkah-langkah pemahaman, pelatihan, pembiasaan dan pembudayaan.

            

0 komentar:

Poskan Komentar