Jumat, 23 Desember 2011

Konsumtivisme Calon Intelektual




Konsumtivisme memiliki dua akar kata yaitu “konsumtif” dan “isme”. Konsumtif adalah kata sifat yang memiliki kata dasar “consumptus” (Latin), “consume” (Ingg.), konsumsi (Ind.). Dengan demikian kata konsumtif berarti sifat mengkonsumsi, memakai, menggunakan, menghabiskan sesuatu. Sangat menarik, dalam bahasa inggris kata “konsumtif” digunakan untuk menyatakan penggunaan sesuatu hal dengan berlebih-lebihan, memboroskan, obsesif, dan rakus. Bahkan kata ini juga digunakan bagi orang yang terkena TBC di paru-paru. “Konsumtif” bisa digunakan untuk penggunaan kepada uang, waktu, atau energi dengan berlebihan dan destruktif. Jika demikian maka konsumtivisme adalah sebuah pandangan hidup, gaya hidup, ajaran, sikap atau falsafah hidup yang memakai, mengkonsumsi, menggunakan, menghabiskan sesuatu dengan berlebih-lebihan, memboroskan sesuatu.
Namun, perlu digaris bawahi pada dasarnya manusia adalah makluk “konsumtif”. Semenjak kecil sampai dewasa, manusia tidak lepas dari mengkomsumsi baik itu berupa makan, minuman, pakaian dan lain sebagainya. Dengan kata lain konsumsi merupakan bagian dari hidup manusia.

Minggu, 20 November 2011

Analisis kritis evaluasi terhadap Pendidikan Agama Islam

Pendidikan merupakan komponen penting bagi kemajuan Negara, hal ini selaras dengan semboyan “Negara yang maju adalah Negara yang menghormati para guru”. Menilik perjalan bangsa Indonesia, kemerdekaan bangsa Indonesia tidak lepas dari para cendikia atau kaum terpelajar seperti bung karno, bung hatta dan lain-lain.
            Pendidikan dapat pula dikatakan sebagai simbol bagi suatu bangsa, semakin baik pendidikan pada suatu bangsa maka baik pula bangsa tersebut.  Penyimbolan ini merupakan hal yang wajar karena pendidikan merupakan komponen yang mendasar bagi kehidpan umat manusia secara umum. Salah satu komponen dalam dunia pendidikan yang cukup penting adalah pendidikan Agama. Dalam hal ini penulis lebih spesifik terhadap pendidikan Agama Islam.

Pendidikan Islam paradigma teologis, filosofis dan spiritual












Review buku










Pendidikan Islam paradigma teologis, filosofis dan spiritual
pengarang
Prof. Dr. Tobroni, M.Si


KERANGKA FILOSOFIS DAN TEOLOGI PENDIDIKAN
            Paradigma (paradigm) dalam oxford advanced learner’s dictionaries berarti (general) pattern atau model. Bisa juga berarti kaidah, dalil, tasrif dan pola  dari sesuatu yang dianggap benar dan baku.
            Sedang, filsafat berarti cinta kebenaran (al-haq) dan kebijaksanaan (al-hikmah), filsafat juga disebut sebagai the mother of science, induk dari ilmu pengetahuan. Dan filsafat disebut juga the spreme art, pengetahuan tertinggi atau the art of life , pengetahuan tentang hidup.

Rabu, 05 Januari 2011

Kekuatan Cinta

Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.
Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog sampai filosop membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis ataupun sosiologis.
Filosop sekaliber Plato bahkan pernah mengatakan “Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita”. Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.

Hidup Adalah Surga

Oleh : M Arifin Ilham
Hidup adalah kumpulan hari, bulan, dan tahun yang berputar tanpa pernah kembali lagi. Setiap hari umur bertambah, usia berkurang. Hal itu berarti kematian kian dekat. Semestinya kita kian arif dan bijak menjalaninya, tetap dalam kesalehan, bertambah kuat akidah, semakin khusyuk dalam beribadah, dan mulia akhlak. Pada puncak kebaikan itu lalu kita wafat, itulah husnul khatimah.
Kehidupan jasad hanyalah sementara di dunia. Sedangkan kehidupan roh mengalami lima fase, yaitu: arwah, rahim, dunia, barzah, dan akhirat. Berarti hidup di dunia hanya terminal pemberhentian menuju akhirat. Allah SWT mengingatkan, ''Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.''(QS: Al-A'laa [87]: 17). Rasulullah saw menggambarkan bahwa hidup ini tak ubahnya seorang musafir yang berteduh sesaat di bawah pohon yang rindang untuk menempuh perjalanan tanpa batas. Karena itu, bekal perjalanan mesti disiapkan semaksimal mungkin. Sebaik-baik bekal adalah takwa (QS Albaqarah [2]: 197).
Orang bertakwa adalah orang yang sangat cerdas. Ia tidak mau terjebak pada ''keenakan'' sesaat, tetapi menderita berkepanjangan. Karenanya, ia mengolah hidup yang sesaat ini menjadi berarti untuk kehidupan panjang tanpa akhir nanti. ''Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.'' (QS Al-Ankabuut [29]: 64).
Hidup ini di bawah tatapan dan aturan Allah. Segalanya digulirkan dan digilirkan: hidup, lalu mati; kecil, akhirnya membesar; muda, lama-lama tua; dan muncul kesenangan, terkadang berganti kesedihan. Semua fana. Tetapi, di tengah kefanaan itu, umat Rasulullah yang paling sukses --sebagaimana dijelaskan dalam
hadis --adalah yang paling banyak mengingat mati, lalu mempersiapkan hidup setelah mati.
Akhirnya, orang-orang cerdas akan tahu, sadar, dan yakin bahwa hidup bukan untuk mati, tetapi mati itulah untuk hidup. Hidup bukan untuk hidup, tetapi untuk Yang Mahahidup. Karenanya, jangan takut mati, jangan cari mati, jangan lupa mati, dan rindukanlah mati. Mengapa? Karena, kematian adalah pintu berjumpa dengan-Nya-- perjumpaan terindah antara kekasih dengan Kekasihnya.
Subhanallaah, ternyata hidup ini surga, saudaraku.