Sabtu, 18 Mei 2013

Filsafat Pendidikan Islam

Judul Buku : Filsafat Pendidikan Islam
Penulis : Prof. Dr. Ahmad Tafsir
Penerbit : PT REMAJA ROSDAKARYA
Tebal : 338 Halaman
Cetakan : Cet. III November 2008

Pendidikan merupakan pondasi pembangunan suatu bangsa, jika pendidikan tidak berjalan dengan semestinya maka pembangunan tidak akan terlaksana, atau bahkan dapat mengakibatkan krisis multidimensi yang berkepanjangan. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan media pembangunan yang memiliki posisi strategis dalam mengintegrasikan dan mengatur sub-sub sitem dalam masyarakat. Pendidikan juga merupakan sarana transformasi ilmu pengetahuan, yang meliputi sosialisasi ilmu pengetahuan, pengembangan ilmu pengetahuan, sosialisasi norma dan nilai dalam masyarakat, baik budaya, agama, maupun idiologi.
Indonesia merupakan negara dunia ketiga yang sedang melakukan pembangunan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945, namun dalam perjalanannya timbul berbagai penyimpangan dan masalah-masalah didalam proses perealisasiannya. Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini dapat dikatakan masih sangat rendah, hal ini dibuktikan dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kapita yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia semakin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Masalah pendidikan di indonesia bukan saja karena kualitas intelektualitas yang masih rendah, tetapi juga diperparah dengan degradasi moral generasi muda yang masih belum bisa menyaring perkembangan globalisasi. Tawuran antar pelajar, free sex, narkoba, dan tindakan asusila maupun pelanggaran hukum banyak mewarnai pendidikan Indonesia, bahkan hal ini dapat kita saksikan baik secara langsung maupun dimedia massa. Banyak masyarakat mempertanyakan kinerja pendidikan dengan pandangan sekeptis, namun kita juga tidak bisa menyalahkan lembaga pendidikan karena sebagai masyarakat kita juga memiliki andil yang besar dalam proses pendidikan.
Berbicara mengenai masalah-masalah pendidikan tentunya tiada habisnya, namun kita sebagai generasi muda harus memiliki sikap kritis dalam membaca realitas yang sedang terjadi dalam masyarakat, dan mungupayakan pencarian solusi terhadap permasalahan tersebut. Upaya perbaikan tersebut sangat diperlukan dalam rangka membangun intelektual yang mandiri dalam pembangunan dan bersaing dalam masyarakat global. Bukan saja dalam membangun kecerdasan intelektual tetapi juga membangun kecerdasan emosional dan spiritual generasi muda.
Diakui atau tidak, kualitas kepribadian anak didik kita belakangan ini kian memprihatinkan. Maraknya tawuran antar remaja di berbagai kota ditambah dengan sejumlah perilaku mereka yang cenderung anarkis, meningkatnya penyalahgunaan narkoba, dan suburnya pergaulan bebas di kalangan mereka adalah bukti bahwa pendidikan kita telah gagal membentukakhlak anak didik. Pendidikan kita selama ini memang telah melahirkan alumnus yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan formal yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan yang ada tidak berhasil menanamkan nilai-nilai kebajikan. Kita lihat berapa banyak lulusan pendidikan memiliki kepribadian yang justru merusak diri mereka.
Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya para guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya. Kelemahan para pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan potensi para siswa. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan.
Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Lebih parah lagi, pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Ini salahnya, kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah. Jadi, para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak pernah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, padahal lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas.

Tampaknya dunia pendidikan di Indonesia masih dipenuhi kemunafikan karena yang dikejar hanya gelar dan angka. Bukan hal mendasar yang membawa peserta didik pada kesadaran penuh untuk mencari ilmu pengetahuan dalam menjalani realitas kehidupan. Pendidikan semacam itu tidak terjadi di negeri ini sebab orientasinya semata-mata sebagai sarana mencari kerja. Kenyataannya yang dianggap sukses dalam pendidikan adalah mereka yang dengan sertifikat kelulusannya berhasil menduduki posisi pekerjaan yang menjanjikan gaji tinggi. sementara nilai-nilai akhlak dan budi pekerti menjadi `barang langka’ bagi dunia pendidikan.
Melalui buku Filsafat Pendidikan Islami ini, Ahmad Tafsir menggugat pendidikan kita yang masih menghasilkan lulusan berakhlak buruk seperti suka menang sendiri, pecandu narkoba dan hobi tawuran, senang curang dan tidak punya kepekaan sosial, atau gila harta dan serakah. Menurut penulis yang sehari-hari mengajar filsafat di Universitas Islam negeri Bandung ini, kegagalan pendidikan bukan hanya diukur dari standar pemenuhan lapangan kerja. Masalah yang lebih besar adalah pendidikan kita belum bisa menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia. Ahmad Tafsir menegaskan, bangsa-bangsa yang dimusnahkan Tuhan bukan karena tidak menguasai iptek atau kurang pandai, namun karena buruknya akhlak. Karena itu, mengutip kata-kata bijak para filosof, pendidikan sejatinya ditujukan untuk membantu memanusiakan manusia.
Pendidikan tersebut harus mencakup unsur jasmani, rohani dan kalbu. Implementasi ketiga unsur itu dalam format pendidikan niscaya menghasilkan lulusan dengan nilai kemanusiaan yang tinggi. Hanya saja, kita melihat pendidikan di Indonesia sangat jauh dari yang diharapkan bahkan jauh tertinggal dengan Negara-negara berkembang lainnya. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan. Pendek kata, pendidikan kita belum mampu mengantarkan anak didik pada kesadaran akan dirinya sebagai manusia. Padahal, manusia adalah pelaku utama dalam proses pendidikan. Untuk itu penulis membuka kajiannya dengan penjelasan mengenai hakekat manusia. Penjelasan soal ini dibagi dalam tiga bagian yakni penjelasan tentang manusia menurut manusia. Pada bagian ini banyak dikutip pendapat para filosof yang memaparkan unsur-unsur manusia. Bagian kedua memuat penjelasan Allah tentang manusia. Di sini diungkap beberapa ayat Alquran yang merinci faktor-faktor penentu bagi kehidupan manusia. Misalnya. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dengan banyak kelebihan. Manusia juga dilengkapi banyak kelemahan yang tidak dimiliki makhluk lain. Bahasan seputar manusia ditutup dengan bagian terakhir, yaitu inti manusia.
Penjelasan soal inti manusia didasarkan pada hadis qudsi yang menerangkan bahwa ada tujuh kulit yang melingkupi inti manusia. Pembahasan tentang inti manusia ini tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan. Sebab pendidikan yang sejati adalah untuk manusia. Selain mengurai hakikat manusia, penulis juga menjelaskan soal hakikat pendidikan, tujuan pendidikan, dan pengembangan pendidikan sebagai usaha membangun manusia seutuhnya.
Buku ini merupakan sebuah sumbangsih yang sangat besar bagi kaum pelajar khususnya setingkat mahasiswa dan mahasiswa pasca sarjana yang mungkin masih awam dalam memahami tentang filsafat pendidikan islam. Permasalahan mengenai filsafat yang dikaji di setiap kampus pendidikan ternyata hampir sama, yaitu sulitnya membedakan antara filsafat pendidikan dan teori pendidikan.
Dengan semua daya dan upaya penulis optimalkan dalam menyusun buku ini, penulis adalah seorang yang ahli di dalamnya yaitu seorang pengajar tentang Filsafat Pendidikan dan Ilmu Pendidikan di beberapa perguruan tinggi, yang mahasiswanya adalah mahasiswa program S1 dan S2.
Penulis dalam menyusun buku ini diawali dengan mejelaskan terlebih dahulu mengenai perbedaan filsafat dengan ilmu. Dari penjelasan yang ada di BAB I ini mencerminkan pemahaman penulis yang dalam tentang filsafat. Namun, dari BAB ini juga pembahasannya tidak hanya menceritakan perbedaan filsafat dan ilmu. Akan tetapi, menjelaskan pula latar belakang penulisan judul buku yang sedang kita kaji sekarang judulnya.
Buku ini juga tidak ditulis secara sistematik menurut struktur Filsafat Pendidikan. Tetapi, penulis hanya membicarakan beberapa topik atau tema saja yang dianggapnya penting. Bahkan sebagian besar bahan-bahan materinya diangkat dari makalah-makalah yang pernah penulis dibahas di forum-forum diskusi atau formal lainnya.
Prof. Tafsir menggugat pendidikan kita yang masih menghasilkan lulusan yang suka menang sendiri dan memaksakan kehendak, suka narkoba dan tawuran, suka curang dan tidak punya kepekaan sosial, bahkan suka serakah dan korupsi. Padahal itu semua, termasuk koruptor adalah orang yang gagal menjadi manusia sekalipun dia seorang pejabat atau pengusaha sukses.
Jadi kegagalan pendidikan bukan hanya tidak memenuhi standar lapangan kerja. Masalah yang lebih besar adalah pendidikan kita belum bisa menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia. Kata Tafsir, bangsa-bangsa yang dimusnahkan Tuhan itu bukan karena tidak menguasai iptek atau kurang pandai, tapi karena buruknya akhlak. Bukankah orang yang tidak berakhlak itu derajatnya lebih rendah dari binatang.
Karena itu, kata para filosof, pendidikan dimakudkan untuk membantu memanusiakan manusia. Pendidikan tersebut harus mencakup unsur jasmani, rohani dan kalbu, perpaduan ketiga unsur itu dalam desain pendidikan akan menghasilkan lulusan dengan nilai kemanusiaan yang tinggi Insya Allah.

Minggu, 25 November 2012

bunda


Bunda..
Seperti pagi tiap waktu
Aq pun bangun dari pembaringanku
Dalam malas dan bosan menghadapi  pagi
Serasa pagi ini menusuk jantungku tiap kali datang

Bunda..
Aq bosan tiap hari mendengar  marahan mu
Aq bosan melihat diri tiap hari hrus membantu mu
Aq bosan tiap hari dengan larangan dan perintah yang kau beri padaku
Serasa gunung semeru di atas pundakku

Bunda..
Ku tiap hari berkeluh kesah padamu
Tentang hidup yang kadang tak berteman dengan ku
Semua luap salah dan benci ku timpakan padamu

Tapi..
aq kini terbangun dari keegoisan diriku
Dengan penuh kasih sayang kau besarkan aku
Dengan penuh sabar kau temani hiduku

Bunda..
Lama sembilan bulan kau kandung aku
Penuh derita dan pengorbanan
Penuh sukar dan keletihan
Hanya untuk menjagaku agar ku melihat di dunia
Agar aku melebarkan senyumku tiap hari
Bunda..
Sunggu tega aku ini
Membiarkanmu dalam duka selalu
Kau balas kebodohanku dengan senyum indahmu
Kau balas sakit hatiku dengan cinta yang tulus
Kau balas rasa benciku dengan tegarnya hatimu

Bunda..
Maafkan anakmu ini
Maafkan sikapku yang suka membentakmu

Bunda..
Ku kadokan buatmu rasa cinta padamu
Ku siap menebus semua salah dan amarahku padamu
Dengan kasih dan cinta yang kan ku tunjukkan padamu

Bunda..
Akan ku ukir senyum mu dalam lembar hidupku
Agar aku tak tersesat nanti
Ku mencoba selalu agar mampu memberi yang terbaik padamu

Bunda ku cinta
Maafkan semua salahku

Doakan anakmu ini yang penuh salah padamu
Tuk menjadi orang yang berguna buatmu

Tak lagi aku lukis tangis di wajahmu
Tak lagi ku buat marah dirimu
Tak lagi derita mu karena ku

Bunda,,
Kan ku tulis dalam hatiku ini
Bahwa aku kan membuatmu tersenyum selalu
Tiada tangis dan keluh kesah darimu karenaku


Malang, 18 Oktober 2012
       
           Ferry achmad

Belajar dari Kehidupan Elang




Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu

 keputusan yang sangat berat pa
da umurnya yang ke 40.

Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga
sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan.....suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.

Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.

Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi !

Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan. Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan.

Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa atas diri anda. Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita. Anda adalah elang-elang itu.

Perubahan pasti terjadi. Maka itu, kita harus berubah. Tetunya perubahan itu bermuarakan perbaikan.

Sudahkah Anda siap untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik? Ceritakan pada kami bagaimana cara Anda untuk berubah.

Jumat, 23 November 2012

_____________Mari merenung sejenak___________



Ingatkan tak kala kalian masih kecil dahulu
Kalian tak punya apa-apa, hanya merengek tak berdaya
Beberapa minggu kemmudian kalia hanya mammpu membuka mata
Menatap dunia sekitar hidup kalian
Namun,,,,,,
Kalian tak berdaya dan lemah
Bulan berganti bulan, kau mulai belajar merangkak
Jatuh berulang kali, namun kau kembali mencoba
Senyum dan sbar mu tak bernah lepas dari wajahmu
Tak hanya itu........
Karena masih jauh tuk kau dapat melangkah
Kaupun terus berusaha dengan senyum dan sabar yang selalu menghiasi wajahmu
Kau ingi tunjukkan pada dunia bahwa kau layak tuk hidup dari bagian dunia kecil ini
Kaun ingin tunjukan bahwa kau mampu berdiri...
Berdiri untuk menatap dunia
Kau ingin tunjukkan bakwa kau mampu berjalan
Berjalan tuk mennuju yang kau ingin
Dan.....
Kau tunjukan bahwa kau mampu berlari
Berlari tuk manusia yang sempurna di sisi yang Maha Sempurna


arti kejujuran


ada pengalaman yang perlu dicermati saat PPl di salah satu sekolah di Baatu. Tatkala saya kampanye bersama calon ketua dan wakil ketua. Saya berujar pada siswa-siswa yang lain “jangan lupa pilih kenken dan Nida ya”, mereka pun menyakut dengan ucapan “traktir dulu pak ”, ada juga dengan terang-terang meminta fulus meski dengan nada agak bercanda tapi ini menunjukkan bahwa politik uang di peperangan memperebutkan kursi panas kekuasaan telah meresap ke dalam otak anak-anak. Sunggu memilukan, ketika guru mengajarkan arti kejujuran tapi lingkungan malah menunjukkan kebohongan yang dibenarkan.
sunggu aneh negeri ini..

Kamis, 19 Januari 2012

Pendidikan Agama Islam Dan Akhlak Peserta Didik


Pendahuluan
            Pendidikan merupakan komponen penting dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang tidak paham menjadi paham. Maka dari itu tak jarang pendidkan akan menjadi sasaran utama kenapa seseorang pandai atau bahkan sebaliknya kurang pandai.
            Selain genre pendidikan secara umum pendidikan agama terutama pendidikan agama Islam pun demikian. Lebih luas lagi, pendidikan agama Islam tidak hanya berperan dalam rana kognitif peserta didik semata namun juga rana afektif dan psikomotoriknya. Peran ini semakin komplek dengan tantangan zaman yang semakin menggelobal, dimana peran pendidikan agama Islam akan dihadapkan dengan budaya, baik budaya lokal maupun budaya yang datang dari luar yang semakin menggelobal.
            Tak ayal pendidikan Islam selalu menjadi sorotan dalam merubah akhlak peserta didik. Sehingga peran pendidikan agama Islam akan selalu dipertanyankan, seberapa jauh peran pendidikan Islam bagi kebaikan akhlak peserta didik?
Pendidikan Agama Islam
            Pendidikan merupakan komponen yang telah membangun bangsa ini menjadi besar dan berkembang sampai saat ini. Dari golongan terdidik Negara ini merdeka, dari golongan terdidik Negara ini mencapai kejayaan sampai saat ini.
            Salah satu komponen pendidikan yang patut menjadi dasar pembentukan akhlak pesert didik  adalah pendidikan agama terutaama pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam adalah kegiatan mendidikan agama Islam atau dengan kata lain kegiatan atau usaha-usaha dalam mendidikan agama Islam[1]. Tafsir mengemukakan Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran Islam (knowing), terampil melakukan ajaran Islam (doing), dan melakukan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (being).
Adapun tujuan pendidikan agama Islam di sekolah umum adalah untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan melakukan, dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama pendidikan agama Islam di sekolah ialah keberagamaan, yaitu menjadi muslim yang sebenarnya. Keberagamaan inilah yang selama ini kurang di perhatikan.[2]
Sedangkan el-Basyi membagi tujuan pendidikan agama Islam menjadi dua yakni tujuan umum dan tujuan khusus, adapun tujuan umum antara lain
a.       Membantu pembentukan akhlak mulia
b.      Persiapan untuk kehidupan akhirat
c.       Persiapan mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi manfaat
d.      Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajar dan memuaskan untuk mengetahui dan mengkajinya
e.       Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis dan menguasai profesi tertentu.
Adapun tujuan pendididikan agama Islam secara khusus adalah:
a.       Pembinaan warganegara yang mukmin kepada negaranya.
b.      Pembinaaan Muslim yang berpegang teguh pada agamanya dan berakhlak mulia
c.       Pembinaan warganegara yang kuat, sehat dan padan
d.      Pembinaan  pribadi yang sehat jasmani dan rohani.
e.       Pembinaan warganegara yang disenjatai dengan ilmu pengetahuan.
f.       Penciptaan warganegara yang terdidik pada perasaan, keindahan dan seni
g.      Pembentukan warganegara yang menghargai kepentingaan keluarga, bertanggung jawab, rela berkorban untuk mencapai kemakmuran bagi masyarakat dan dirinya.[3]
Dari tujuan-tujuan yang diungkapkan El-bisyri akhlak menempati posisi pertama dari pendidikan agama Islam. Karena pendidikan agama Islam tidak hanya bertujuan untuk membentuk muslim yang berkualitas kognitifnya semata namun juga afektif dan psikomotorik.
Akhlak
Akhlak  secara bahasa adalah mashdar dari akhlaqa- yukhliqu- ikhlaqan, artinya sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala - yuf’ilu- if’alan yang berarti al-sajiyah (perangai), at-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-muru’ah (peradaban yang baik) dan al-din (agama).
Dalam kitab Daaratul Ma’arif, secara singkat akhlak diartikan, “Sifat-sifat manusia yang terdidik”. Akhlak secara istilah menurut beberapa ahli:
1.      Ibnu Maskawih dalam buku Tahzib al Akhlaq wa Tathhir al-A’rab, “ Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
2.      Imam Ghazali dalam buku Ihya’ Ulumuddin, “Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan”.
3.      Mu’jam al-Wasith,” Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang degannya lahirlah macam-macam perbuatan baik atau buruk tanpa pemikiran dan pertimbangan”.
4.      Sementara itu Prof. Dr. Ahmad Amin membuat definisi bahwa yang disebut “akhlak” ialah “Adatul-Iradah” atau “kehendak yang dibiasakan”. Definisi ini terdapat dalam suatu tulisannya yang berbunyi, “Sebagian orang membuat definisi akhlak, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu disebut akhlak”.
Akhlak merupakan bagian dari pokok ajaran agama Islam, sebagaimana Nabi SAW bersabda “aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak”. Tobroni menyatakan pentingnya akhlak adalah nomor dua setelah iman. Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah kecuali ia berakhlak mulia. Sebab di antara tanda-tanda iman yang paling utama tertelak pada akhlak yang mulia, dan di antara tanda-tanda nifak yang paling menonjol adalah akhlak yang buruk. Di antara perhiasan yang paling mulia bagi manusia setelah iman, taat dan takut kepada Allah adalah akhlak yang mulia. Dengan akhlak terciptalah kemanusiaan manusia dan sekaligus membedakan dengan binatang, dalam al-Quran terdapat 1504 ayat atau hampir ¼ keseluruhan ayat dalam al-Quran yang berhubungan dengan akhlak baik dari segi teori maupun praktis. Hal ini tidak berlebihan sebab visi kenabian Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak. Itulah sebabnya secara tegas Allah menyatakan bahwa: “engkau (Muhammad) benar-benar berada dalam akhlak yang agung” (Q.s. al-Qalam: 4)[4].


Pendidikan Agama Islam Dan Akhlak
Ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup tiga domain, yaitu
1.      Kepercayaan (I’tiqadiyah), yang berhubungan dengan rukun iman, seperti iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-Nya, iman kepada Kitabullah, iman kepada Rasulullah, iman kepada kepada Hari berbangkit, dan iman kepada Takdir.
2.      Perbuatan (‘amaliyah), yang terbagi dalam dua bagian: 1. Masalah ibadah, berkaitan dengan rukun Islam, seperti syahadat, shalat, zakat, puasa, haji dan ibadah-ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT. 2. Masalah muamalah, berkaitan interaksi manusia dengan sesamanya, baik perseorangan maupun kelompok seperti akad, pembelanjaan, hukuman, hukum jinayah (pidana dan perdata).
3.      Etika (khuluqiyah), berkaitan dengan kesusialaan, budi pekerti, adab, atau sopan santun yang menjadi perhiasan bagi seseorang dalam rangka mencapai keutamaan. Nilai-nilai seperti kejujuran (shidiq), percaya (amanah), adil, sabar, syukur, pemaaf, tidak tergantung pada materi (zuhud), menerima apa adanya (qanaah), berserah diri pada Allah (tawakkal), malu berbuat buruk (haya’), persaudaraan (ukhuwah), tolong menolong, dan saling menanggung adalah seluruh bentuk budi pekerti yang luhur (akhlaq al-mahmudah).[5]
Komponen akhlak merupakan bagian ketiga dari pendidikan agama Islam, namun sebagaiman tobroni mengungkapkan, masalahnya adalah ada kecenderungan dari kehidupan manusia untuk lebih mengutamakan aspek-aspek jasmani dan intelektual dari pada masalah moral. Karena yang terakhir ini (moral) lebih abstrak dan memerlukan pengertian yang mendalam untuk memahami arti pentingnya. Proses pendidikan sering kali mengalami pendangkalan makna menjadi pengajaran yang bersifat transfer of knowlodge yang bebas nilai dan bukan lagi interaksi edukatif yang sarat dengan nilai-nilai moral. Padahal fungsi agama yang utama adalah sebagai petunjuk (hudan).[6]
            Muchtar bahtiar menilai pendidikan agama Islam di sekolah masih gagal. Kegagalan ini disebabkan karena praktek pendidikannya masih memperhatikan aspek kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama), dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Akhirnya mengalami kesenjangan antara pengetahuan dan pengalaman, antara gnosis dan praxis dalam kehidupan nilai agama atau dalam praktek pendidikan agama berubah menjadi pengajaran agama sehingga tidak mampu membentuk pribadi yang bermoral. Padahal inti sari dari pendidikan agama adalah pendidikan moral.[7]
            Muhammad Maftuh Basyumi (Tempo, 24 November 2004) bahwa pendidikan agama yang berlangsung saat ini cenderung lebih mengedepankan aspek kognisi (pemikiran) dari pada afeksi (rasa) dan psikomotorik (tingkah laku). Menurut Komarudin Hidayat pendidikan agama lebih berorientasi pada belajar tentang agama, sehingga hasilnya banyak orang mengetahui nilai-nilai ajaran agama, tetapi perilaku tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran agama yang diketahuinya.[8]
            Bagaimana mengembalikan benang yang hampir putus antara pendidikan agama Islam dengan akhlak? Terdapat tiga komponen yang yang menjadi peran penting dalam proses internalisasi nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam pendidikan agama Islam,yakni
a.       Pendidik (Guru)
            Guru dituntut untuk selalu efektif dalam mengembangkan pendidikan agama Islam. Guru yang efektif adalah yang dapat menunaikan tugas dan fungsinya secara profesional. Guru yang efektif memiliki ciri (1) hubungan guru dan murid: bersahabat, menjadi mitra, belajar sambil menghibur murid, menyayangi murid sebagaimana anak sendiri, adil dan memahami kebutuhan setiap anak dan memberikan bagi anak didik. (2) berkaitan dengan tugasnya sebagai guru: mencintai pekerjaannya, cakap secara akademik, mampu menerangkan dengan jelas, mampu merangsang siswa untuk belajar, mampu memberikan sesuatu pada siswa yang paling berharga, mampu menjadikan kelas sebagai tempat yang menyenangkan. (3) berkaitan dengan sikap dan kepribadian: penampilan menarik, tidak terlalu kaku, bisa menjadi teladan bagi siswa.
            Maka pemberdayaan guru merupakan suatu yang niscaya dilakukan. Pendekatan yang perlu dilakukan dalam pemberdayaan guru setidaknya tiga pendekatan: pendekatan menurut tujuan (organisasi), pendekatan teori sistem (organisasi) dan pendekatan budaya organisasi. Dan langkah-langkah yang perlu ditempuh antara lain, meningkatkan kesejahteraan guru, pengembangan karir guru, peningkatan kemampuan para guru dan mengatasi beban psikologis guru.[9]
b.      Peserta didik
            Dalam proses belajar-mengajar, seorang pendidik sedapat mungkin mampu memahami hakikat peserta didiknya sebagai subjek atau objek pendidikan. Kesalahan dalam memahami peserta didik dapat berakibat fatal bagi proses pendidikan terutama proses pendidikan akhlak terhadap peserta didik.
            Karakter peserta didik antara lain; pertama, peserta didik bukan miniatur orang dewasa, dia mempunyai dunia sendiri sehingga metode belajar mengajar tidak boleh disamakan dengan orang dewasa. Kedua, peserta didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin. Ketiga,peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain. Keempat, peserta didik dipandang sebagai satu kesatuan sistem manusia.  Kelima, peserta didik merupakan objek sekalis subjek dalam pendidikan yang dimungkinkan dapat aktif, kreatif dan produktif. Keenam, peserta didk mengikuti periode-periode perkembangan tertentu serta mempunyai pola perkembangan dan tempo serta iramanya.[10]
c.       Metode
            “metode lebih penting dari materi”, begitulah bunyi salah satu hikmah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya metode dalam belajar mengajar. Tujuan dari metode pendidikan agama Islam adalah menjadikan proses dan hasil belajar mengajar agama Islam lebih berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran pada peserta didik untuk mengamalkan ajaran agama Islam. Sedang fungsi metode sendiri adalah mengarahkan keberhasilan pendidikan, memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk belajar berdasarkan minat, serta didorong usaha kerja sama dalam kegiatan belajar antara peserta didik dan pendidik.[11]


Kesimpulan
            Dari uraian di atas penulis menyimpulkan
1.      akhlak tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan agama Islam karena akhlak merupakan bagian bahkan tujuan dari pendidikan agama Islam.
2.      Pendidikan agama Islam berperan besar dalam membentuk akhlak peserta didik
3.      Pendidikan sat ini masih banyak menekankan pada aspek kognitif padahal pendidikan agama Islam tidak hanya penyampaian pengetahuan akan tetapi penyampaian nilai-nila Islam terhadap peserta didik
4.      Pendidik, peserta didik, dan metode merupakan bagian yang tidak terpisahkan agar pendidikan agama Islam mampu membentuk akhlak yang baik bagi peserta didik.



DAFTAR PUSTAKA
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana
Tobroni. 2008. Pendidikan Islam; Paradigma Teologis, filosofis dan Spiritualitas. Malang: UMM Press
Muhaimin.2010. pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta. Rajawalipress
Tafsir. A.___. Pendidikan Agama Islam. PDF


[1] Muhaimin hal. 6
[2] Tafsir hal. 1
[3] Ibid.
[4] Tobroni hal. 72
[5] Abdul mujib dkk hal. Xii-xiii
[6] Thobroni loc it. ­hal. 74
[7] Muhaimin. Loc it. Hal 23
[8]Muhaimin, Ibid. hal 23
[9] Thabrani. Loc it. Hal. 115
[10] Abduk mujib dkk. Hal 105-106
[11] Abdul muijib. Ibid. hal 167

Kamis, 05 Januari 2012

kumpulan emoticon FB terbaru


kode emoticon FB baru :

Poker Face
[[258968244165876]] [[286666501379430]] [[262520713809098]] [[159049157536013]] [[307904395916212]]
[[225447050864310]] [[209926462425564]] [[138411019605305]] [[221670374577056]] [[154671737968862]]
[[138007062977844]] [[291747794194724]] [[122952454488304]] [[337561022923016]] [[288878907831075]]
[[240630206008013]] [[264223330304357]] [[319462458078703]] [[239286912807413]] [[288721814513254]]
[[265575850170635]] [[345354905481875]] [[209004679185391]] [[259785247417432]] [[159480014157666]]
[[267428346644787]] [[239034746168540]] [[350046018344350]] [[209260572491236]] [[198316980259626]]
[[310959705610393]] [[214054278676095]] [[200638253359905]] [[334455703231303]] [[158066514298630]]


U Mad
[[291152600919956]] [[295479677155336]] [[314363058604092]]
[[262834777109378]] [[189006671194968]] [[263319493729810]]
[[251236504943440]] [[287904934588441]] [[185961414833909]]


Nyan Cat
[[265434590178748]] [[164991926934921]] [[209695692449988]] [[250490361685507]] [[278968458819422]] [[349625665051383]] [[205760419511603]]
[[312189672135533]] [[299788346731384]] [[268532783202434]] [[266669970059695]] [[204170799672068]] [[187204144709527]] [[331078983588306]]
[[149240955184679]] [[206407216112871]] [[240669959335314]] [[180619528702085]] [[347768705240557]] [[186661331430535]] [[218646048216424]]
[[344875905539434]] [[328111047214223]] [[323186421038846]] [[157802940990663]] [[159535350818164]] [[296581710385765]] [[271261609598535]]

True Story
[[159403400834378]] [[297487363621407]] [[1156068411]] [[135921843188987]] [[281219301903813]] [[199562043466774]]
[[295738517127851]] [[155658844536513]] [[209549519130890]] [[142176999226854]] [[246689415397308]] [[199562043466774]]
[[238766052862259]] [[307299595976209]] [[217652968315422]] [[189042331191521]] [[286721874712929]] [[344476392245488]]
[[208520335900424]] [[280378908678680]] [[289772571069549]] [[271456079578545]] [[316530365035101]] [[288356997877538]]
[[291702580880362]] [[165637363538400]] [[150244831751625]] [[241130952627573]] [[120930761357725]] [[325867137432308]]
[[154842501286195]] [[286053358112869]] [[149316288510313]] [[250243511707871]] [[291635414215481]] [[344254632266885]]
[[276412539074685]] [[131586963624296]] [[333374550025341]] [[327570193933422]] [[199699430120687]] [[136021593179546]]

Kaskus
Kaskus Repost: [[243344945733611]]
Kaskus Maho: [[mahochat]]
Kaskus Bingung: [[205827876172490]]
Kaskus Like: [[261018420628968]]
Kaskus Nope: [[328740787138287]]
Kaksus Capedehh: [[296027833771776]]
Kaskus 4L4y: [[311851138846391]]
Kaskus Ngakak: [[guengakak]]
I Love Kaskus: [[203443053077888]]

Kartun
Troll face: [[171108522930776]]
Me Gusta: [[211782832186415]]
ARE YOU FUCKING KIDDING ME: [[143220739082110]]
Feel like a sir: [[1680408465586189]]
Not bad Obama: [[169919399735055]]
Mother of God: [[142670085793927]]
Cereal Guy: [[170815706323196]]
LOL Face: [[168456309878025]]
NO Guy: [[167359756658519]]
Yao Ming: [[14933336846417]]
Derp: [[224812970902314]]
Derpina: [[192644604154319]]
Forever Alone: [[177903015598419]]
It's Okay!: [[148578318584679]]
ALL the y: [[219611504753863]]
Impossibruh: [[305710872791586]]
Rage Face: [[145768898802324]]
Watch out, badass: [[309795212383816]]
Poker face: [[129627277060203]]
Justin Bieber: [[67253243887]]
Lady GaGa: [[ladygaga]]
Eminem: [[eminem]]
Mark Zuckerberg: [[zuck]]
FUCK YEAH: [[105387672833401]]
CHUCK NORRIS: [[161751797197606]]
POKER FACE: [[129627277060203]]
CHALLENGE ACCEPTED: [[100002727365206]]
Dislike Icon: [[139407806171115]]
Like Icon: [[333181686710881]]
Inverted Like Icon: [[180601488705317]]

Huruf
[[249199828481201]] - Konata Izumi
[[250128751720149]] - Domo Kun
[[223328504409723]] - Gintoki Sakata
[[236147243124900]] - Pokeball
[[326134990738733]] - Pikachu
[[155393057897143]] - Doraemon
[[224502284290679]] - Nobita
[[144685078974802]] - Mojacko
[[334954663181745]] - Spongebob
[[196431117116365]] - Shin chan
[[148935948523684]] - Pedo Bear
[[269153023141273]] - Poring

[[107015582669715]] = A
[[116067591741123]] = B
[[115602405121532]] = C
[[112542438763744]] = D
[[115430438474268]] = E
[[109225112442557]] = F
[[111532845537326]] = G
[[111356865552629]] = H
[[109294689102123]] = I
[[115636698451811]] = J
[[116651741681944]] = K
[[115807951764667]] = L
[[106596672714242]] = M
[[108634132504932]] = N
[[116564658357124]] = O
[[111669128857397]] = P
[[107061805996548]] = Q
[[106699962703083]] = R
[[115927268419031]] = S
[[112669162092780]] = T
[[108983579135532]] = U
[[107023745999320]] = V
[[106678406038354]] = W
[[116740548336581]] = X
[[112416755444217]] = Y

XAT emoticon
[[xated]] = (xat)
[[xatpray]] = (pray)
[[xatredface]] = (redface)
[[xatmaniac]] = (maniac)
[[xatsmirk]] = (smirk)
[[xatshock]] = (shock)
[[xatmad]] = (mad)
[[xatxd]] = (xd)
[[xatcrying]] = (crying)
[[xatwary]] = (wary)

oke, itulah kumpulan lengkap kode emotion fb terbaru , selamat mencoba ya .

Read more: http://www.berryhs.com/2012/01/kumpulan-emoticon-fb-terbaru.html#ixzz1iZW6eUKz

Jumat, 30 Desember 2011

Cerita Lucu Einstein Vs Mr. Bean


Suatu hari Einstein dan Mr.Bean ga sengaja ketemu di sebuah taman. Einstein sedang merasa bosan, Mr.Bean pun sedang terlihat santai, lantas Einstein mengajak Mr.Bean bermain sebuah permainan.

Einstein: Bean, kita maen yu.. Permainannya gini, gw kasi pertanyaan ke u, kalo u gabisa jawab, u kasi gw $1 aja. Nah, kalo u ngasi pertanyaan ke gw dan gw gabisa jawab, gw kasi u $1000

Mr.Bean: yayaya (dengan muka khasnya yg tersenyum)

Einstein: Gw dulu ya.. Pertanyaannya.. Berapa jarak dari bumi ke bulan?

Mr.Bean: Hehehe, (langsung merogoh kantongnya dan memberi $1 dan diberikannya uang itu ke Einstein)

Dan sekarang giliran Mr.Bean bertanya

Mr.Bean: My turn... Apakah yang saat naik ke atas bukit menggunakan 3 kaki, dan saat turun menggunakan 4 kaki?

Lalu Einstein dengan cekatannya membuka semua buku yg ada di tasnya, bertanya kepada kolega2nya, rekan2nya, berpikir keras. Tetapi setelah 1 jam berlalu, akhirnya dia menyerah

Einstein: Nih (memberikan $1000 sambil garuk2 kepala)

Mr.Bean: Hehehe (tawa khas Mr.Bean)


Lalu Bean pun hendak pergi dari taman itu


Einstein: Eh tunggu dulu, Bean. Emang jawabannya apa si?

Mr. Bean: hohoho... (lalu dia merogoh sakunya dan memberikan Einstein $1). Gw juga gatau.. :-P


Lalu Bean pun pergi meninggalkan Einstein

Einstein: #$%^(*&^"?>!!

sumber: http://forum.vivanews.com/aneh-dan-lucu/260300-cerita-lucu-einstein-vs-mr-bean.html

Perbedaaan Mahasiswa Pelajar Dan Penganggur


Berita Lucu Perbedaaan Mahasiswa Pelajar Dan Penganggur Lagi Jalan Jalan Cari Reverensi Nemu Ini Di Forum Ngakak Moga Bisa menghibur Agan Tentang Berita Lucu Ini, Silahkan Di Simak

1. Jam menunjukan pukul 06.45
Pelajar: udah gugup mau telat
Mahasiswa: Woohamb (baru bangun)
Pengangguran: ZzzzZZZzzzzzZ (masih molor)

2. Sampe d kampus/skul pukul 07.05
Pelajar: dimarahin guru + poin pelanggaran
Mahasiswa: nongkrong d tmpt parkir / udud / mandi d mck kampus / liad ppn pngumuman, syp tau libur
Pengangguran: ZzzzZZZzzzzzZ (masih molor)

3. Masuk ruang kelas pukul 07.15
Pelajar: dimarahin lagi ma guru mapel jm prtama
Mahasiswa: smsan / melamun nunggu dosen / ngemut permen chupachus / godain cwe
Pengangguran: ZzzzZZZzzzzzZ (masih molor)

4. Semisal pembina kagak ada
Pelajar: dapet tugas dari guru piket
Mahasiswa: Liibuuuur
Pengangguran: ada dosen / guru / pembina yg penting molor!

5. Semisal mati lampu
Pelajar: "guru = kerjakan halaman xx sampe xx"
Mahasiswa: "dosen = berhubung mati lampu kuliah dlanjutkan prtmuan berikutnya (walo dah mau UTS)"
Pengangguran: mati lampu? molor lg deeh ..

6. Semisal AC rusak
Pelajar: "guru = g usa mengeluh! cpt kerjain tugas!! jgn nyontek"
Mahasiswa: "dosen = kuliah mau ganti hari ato kuliah d taman saudara2?"
Pengangguran: baru bangun tidur! matane kiyip2 , sarapan (walo jm 11am)

7. Semisal proyektor rusak
Pelajar: "guru = kita k lab bahasa, yg telat g boleh masuk"
Mahasiswa: "dosen = kalian k perpus, cari resensi bwd besok (besoknya dosen dah lupa)"
Pengangguran:buat apa proyektor? whatever deh!

8. Semisal tinta spidol mau abis
Pelajar: "guru = ketua kelas isi spidol !"
Mahasiswa: "dosen = kyk'a spidol'a sensi bgt, mas2 yg blakang bisa baca? kuliah hari ini abisin spidol aja yah"
Pengangguran: whatever!

9. Semisal tanggal tua
Pelajar: guru ngajar ky biasa, suka nunjuk2, sensi bgt neeh!!
Mahasiswa: "dosen = absen'a yg cepet, kl dah smua ksh k dpn yaa. tanggal tua nii! gak gak gak kuat! "
Pengangguran: diem d kamar ngegame nunggu bokap / nyokap pulang bwa duit

10. jam pulang bunyi pukul 14.00
Pelajar: yeee pulang eh, tp ada les :'(
Mahasiswa: "gwa pulang kuliah jm tngh 9 pagi kalee "
Pengangguran: ZzzzZZZzzzzzZ (bobo siang)

11. Malemnya
Pelajar: B-E-L-A-J-A-R !! sukses UN 2012 !! UGM I'M COMING !! (ugm: unv. grendeng mawon)
Mahasiswa: ngedate / maen game / kumpul ma tmn / melamun / ngupil / Dsb.
Pengangguran: jadi BATMAN alias kluyuran mpe subuh

KESIMPULAN:
Pengangguran telah menikmati surga dunia namun MADESU
Mahasiswa senang2 dahulu kerja kemudian
Mati aja deeh bwd pelajar, hidup kok susah amat

sumber: http://www.fenomania.com/2011/12/berita-lucu-perbedaaan-mahasiswa.html

Minggu, 25 Desember 2011

PERSEKUTUAN ( SYARIKAH) DAN WAKALAH (PERWALIAN)



Syarikah secara bahasa artinya perkumpulan atau persekutuan. Syarikah ini terjadi karena berdasarkan pilihan atau kesepakatan antara dua orang atau lebih. Adapun jika yang dimaksudan di sini adalah syarikah (serikat) pada harta pusaka antara beberapa ahli waris maka hak memilih tidak ada lagi.
Sedangankan Wakalah secara bahasa artinya menyerahkan dan menjaga. Sedangkan menurut istilah, wakalah adalah menjadikan orang lain menempati posisinya, baik secara mutlah atau tidak.
Hadis 1
Rasaulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( قَالَ اَللَّهُ: أَنَا ثَالِثُ اَلشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ, فَإِذَا خَانَ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ
 Dari Abu Hurairoh ra, ia berkata.” Rasulullah saw bersabda,” Allah berfirman,’  aku menjadi pihak ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada mitranya, jika ada yang berkhianat, aku keluar dari ( persekutuan) mereka.” ( HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Al-Hikim).
Penjelasan kalimat
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata , Rasulullah saw bersabda, “ Allah berfirman, ‘ aku renjadi pihak ketiga dari dua rang yang bersekutu selama salah satu dari mereka tidak berkhianat pada mitranya. jika ada yang berkhianat, aku keluar dari (persekutuan). HR.Abu DAwud dan di sahkan oleh AL-Hakim.
ibnu Al-Qathahan menta’lilnya dengan ketidak jelasan status Sa’id bin Hayan yang mana anak Sa’id– Abu Hayan bin Sa’id telah meriwayatkan hadis darinya. Dan disebutkan pula bahwa Al-Harits bin Syuraid meriwayatkan hadis darinya, akan tetapi di anggap mursal oleh Ad-Daraqutni. Sehinnga tidak disebutkan nama Abu Hurairoh dalam riwayat tersebut. Sedangkan dia mengatakan hal tersebut benar adanya.
Makna Hadis” sesungguhnya Allah bersama keduanya “yakni dalam hal pemeliharaan, pengayoman, dan pemberian bantuan harta pada kepada keduanya serta menurunkan barkah dalam perdagangan keduamnya. Sehinggah, ketika terjadi pengkhianatan maka barkah harta keduananya dicabut.
Dalam hadis di atas terdapat anjuran untuk bersyarikat (dalam hal muamalah/ perniagaan) tanpa ada pengkhianatan ancaman bagi mereka yang berkhianat dalam persyarikatan yang mereka lakuakan. Bersyarikat merupakan usaha terpuji dan diridohi oleh Allah, Allah memebrikan barkah kepada orng yang bersekutu dalam usaha bisnis selama semua orang yang bersekutu itu sama-sama jujur, iklasa dan rukun dan orang yang berkhianat dalam bersyarikat di murkahi oleh Allah.
Hadis 2
وَعَنْ اَلسَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ اَلْمَخْزُومِيِّ ( أَنَّهُ كَانَ شَرِيكَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ اَلْبَعْثَةِ, فَجَاءَ يَوْمَ اَلْفَتْحِ, فَقَالَ: مَرْحَباً بِأَخِي وَشَرِيكِي )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَابْنُ مَاجَةَ
Dari As-Saib Al-Makhzumira, bahwa ia dahulu adalah mitra Nabi saw sebelum ia di angkat menjadi Rasul. Ketika ia datang pada hari penaklukan kota mekkah, maka beliau bersabda “ selama datang saudarahku dan mitraku .“ (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Penjelasan
Menurut Ibnu Abdil Barr, As-Saib bin Ubai as-saib termasuk orang yang baru memeluk Islam dengan baik keislamananya serta dia termasuk orang yang di makmurkan. Ia hidup di zaman muawiyyah. Pada masa awal keislamannya dia menjadi mitra bisnis Nabi Saw. Sehingga saat terjadi fathul makkah beliau bersabda
“selamat datang saudarakudan mitraku yang tidak mmbantah dan mendebat”
Hadis tersebut di-shahihkan oleh Al-Hakim, sedangkan menurut riwayat ibnu Majah dinyatakan dengan lafazh “engkau dahulu menjadi mitraku di masa jahiliyah”
Hadis di atas menunjukkan bahwa fenomena bersarikat telah ada sebelum Islam datang kemudian syatriat Islam menetapkan hal tersebut.

Hadis  3
َوَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: ( اِشْتَرَكْتُ أَنَا وَعَمَّارٌ وَسَعْدٌ فِيمَا نُصِيبُ يَوْمَ بَدْرٍ )  اَلْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُ 
Dan dari Abdullah bin Mas’ud Ra, ia berkata, “saya bersekutu dengan Ammar dan saad dalam hata rampasan yang kami peroleh dari perang badar. (HR. An-Nasai)
Penjelasan kalimat
Dan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Aku, Ammar, dan Sa’d bersekutu dalam harta rampasan yang kami peroleh dari perang Badar (Kisah lengkapnya, kemudian Sa’d datang dengan membawa dua tawan an, sedangkan aku dan Ammar tidak membawa tawanan sama sekali).
Dalam hadits tersebut terdapat dalil yang menunjukkan sahnya berserikat dalam hal mata pencaharian yang disebut dengan syarikah abdan. Adapun bentuk dari syarikah ini dalam setiap pihak mewakilkan mitranyauntuk menerima dan bekerja atas namanya dalam hal tertentu, sedangkan keduanya menentukan jenis usahanya. Sebagian besar kalangan Al-Hadawiyah dan Abu Hanifah berpendapat bahwabentuk syarikah seperti ini hukumnya boleh (sah). Sedangkan Asy-Syafi’i berpendapat bahwa hal tersebut tidak sah dengan alasan karena syarikah seperti itu terbangun atas ketidakjelasan ketika keduanya tidak dapat memastikan pendapat keuntungan dan kemungkinan adanya rintangan dalam bekerja. Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Tsaur dan Ibnu Hazm.
Ibnu Hazm mengatakan bahwa berserikat dengan badan pada asalnya tidak boleh dalam bentuk apapun, dan bila hal tersebut terjadi maka dianggap batil sehingga tidak mempunyai sifat yang mengikat. Setiap orang dari keduanya memperoleh hasil sesuai dengan upaya yang dilakukannya, bila keduanya membagi dua bagian maka wajib diputuskan kadar bagian yang diambilnya, karena syarat yang tidak sesuai apa yang telah ditentukan Akitab Allah, maka kedudukannya batal secara hukum. Adapun hadits Ibnu Mas’ud merupakan riwayat dari anaknya yaitu Abu Ubaidah bin Abdillah yang termasuk bentuk khabar yang mungqathi’ (terputus). Karena Abu Ubaidah tidak menyebutkan dari bapaknya sedikitpun, sedangkan kami telah meriwayatkannya dari jalur Waqi’ dari Syu’bah dari Amr bin Murrah. Ia berkata, “Aku berkata kepada Abu Ubaidah, “Apakah engkau mengatakan sesuatu dari Abdullah?” Dia menjawab, “Tidak.” Kalaulah kabar tersebut benar maka menjadi dalil bagi pihak yang memandang sah serikat seperti ini. Karena mereka orang pertama yang bersama kita, dan umat Islam yang menyatakan bahwa berserikat seperti ini tidak dibolehkan serta para pasukan tidak dapat menyendiri menerima hasil rampasan, kecuali harta yang dipakai orang yang tertawan bagi pejuang yang membunuh disertai dengan adanya perbedaan pendapat dari para ulama. Bila hal tersebut dilakukan maka termasuk bentuk perilaku pencurian (ghulul) dan dosa besar. Karena bentuk serikat seperti ini bila dibenarkan oleh hadits tersebut, maka telah dibatalkan oleh Allah Ta’ala yang telah menurunkan firmanNya,
“Katakanlah, “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul.”(QS. Al-Anfal : 1)
Allah membatalkan hal tersebut, kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaginya kepada para pasukan yang berjihad.
Kemudian kalangan Al-Hanafiyah tidak membolehkan berserikat dalam berburu, sedangkan kalangan Al-Malikiyah tidak membolehkan bekerja dalam dua tempat. Bentuk serikat seperti ini sebagaimana dalam hadits tidak dibolehkan menurut kalangan mereka.
Ulama membagi bentuk serikat menjadi empat bagian yang dipaparkan panjang lebar dalam buku-buku mereka. Ibnu Baththal mengatakan, “Ulama sepakat bahwa bentuk serikat yang benar hendaknya tiap pihak mengeluarkan modal seperti yang dikeluarkan mitranya kemudian dicampur hingga tidak dapat dibedakan. Selanjutnya harta tersebut diinfestasikan oleh keduanya, hanya saja masing-masing pihak menempati posisi mitra kerjanya yang disebut sebagai Syarikat ‘Inan. Disahkan pula bila salah satu pihak mengeluarkan modal yang lebih kecil dibandingkan mitra kerjanya, sedangkan keuntungan dan kerugian disesuaikan dengankadar modal yang diberikan. Begitu pula halnya bila keduanya sama-sama membeli barang dagangan atau salah satu pihak menjual barang lebih banyak dibandingkan yang lain. Sehingga dapat disimpulkan setiap orang menerima keuntungan dan kerugian sesuai kadar harga yang telah dibayarkan. Lebih jelasnya, bila kedua pihak mencampur kedua modal maka menjadi kesatuan bersama, kapan saja keduanya menjual dari harta tersebut maka hasilnya dibagi antara keduanya. Dan bila hal tersebut merupakan bagian harga dan keuntungan atau kerugiannya, maka dibagi pula bagi keduanya, begitu pula dengan barang dagangan yang dibeli sebagai ganti harga yang dimiliki.


Hadis 4
وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( قَالَ: أَرَدْتُ اَلْخُرُوجَ إِلَى خَيْبَرَ, فَأَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: إِذَا أَتَيْتَ وَكِيلِي بِخَيْبَرَ, فَخُذْ مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ وَسْقًا )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ
Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku akan keluar menuju Khaibar, lalu aku menghadap Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan beliau bersabda: "Jika engkau menemui wakilku di Khaibar, ambillah darinya 15 wasaq." Hadits shahih riwayat Abu Dawud.
Penjelasan
Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku akan keluar menuju Khaibar, lalu aku menghadap Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan beliau bersabda: "Jika engkau menemui wakilku di Khaibar, ambillah darinya 15 wasaq." Hadits shahih riwayat Abu Dawud.
(Hadis ini secara lengkapnya:”bila ia menginginkan satu ayat darimu maka letakkanlah tangan mu di atas tengkuknya”)
Tafsir Hadis
Hadis ini meupakan dalil yang menunjukkan sahnya wakalah (perwakilan). Para ulama sepakat tentang sahnya wakalah ini. Dan hukum-hukum tentang masalah ini sangant terkalit dengan orang yang mewakilkan. Dalam lanjutan hadis trdapat dalil petunjuk untuk berbuat dengan isyarat petunjuk dengan harta orang lain dan Rasul menerima sadaqah dengan adanya beliau meneriman adanya barang tersebut. Sebagaian jamaah para Ulama mengatakan bahwa Rasul menerima sadaqah dari barang tersebut. Al Mahdi mengaitkan dalam kitab Al-ghaits disetai dengan penuh dugaan yang membenarkannya. Sedangkan Al Hadawiyah berpendapat tidak boleh bersedekah kepada Rasulullah karena itu merupakan Harta orang lain. Di katakan oleh sebagian mereka : Hanya saja terdapat persangkaan bahwa Nabi memerima Sadaqah maka niscaya dibolekan memberinya.
Sumber :
  1. Subulus Salam, Muhammad ash-shan’aniy
  2. Hadist Tarbiyah